Ketahui semua hukum-hukum sholat barusan adalah cara meraih sholat yang khusyuk. Makruh dalam pengertian pengetahuan fikih dapat disimpulkan suatu hal yang ditangani dibenci, bila ditinggal akan mendapatkan pahala. Makruh bisa juga memiliki makna haram. Ini dilaksanakan oleh ulama untuk kehati-hatian.

Dalam sholat sendiri, ada banyak hal yang dimakruhkan. Pertama, makruh hukumnya mengalihkan muka dan dada ke samping saat sholat. Rasulullah SAW bersabda, “Itu ialah penipuan yang dilaksanakan oleh setan pada sholat seorang hamba.” (HR Bukhari).

Dari Anas RA ia berbicara jika Rasulullah SAW bersabda kepadaku, “Hindarilah olehmu melihat dalam sholat. Sebenarnya melihat dalam sholat ialah sebuah kebinasaan. Bila memang seharusnya, lakukan dalam sholat tathawwu’ (sunnah), bukan dalam sholat fardhu.” (HR Tirmidzi).

Beberapa ulama memiliki pendapat jika mengalihkan muka saat sholat dibolehkan bila ada kepentingan yang menekan, seperti bila terserang oleh lawan dalam peperangan. Bila tidak ada kepentingan, mengalihkan muka dan dada saat sholat hukumnya makruh. Bila dia memutar muka, dada, dan semua tubuhnya, sholatnya dihukumi gagal karena tidak menghadap kiblat. Menghadap kiblat adalah persyaratan syahnya sholat. Ke-2 , makruh hukumnya menghadapkan penglihatan ke langit.

Dari Anas bin Malik RA, ia berbicara jika Rasulullah SAW bersabda, “Kenapa beberapa orang mengusung penglihatan mereka ke langit waktu mereka sholat?” Beliau SAW menjelaskannya dengan suara keras lalu berbicara, “Sebaiknya mereka betul-betul stop lakukan hal tersebut atau penglihatan mereka akan ditarik selamanya.” (HR Bukhari).

Penglihatan seorang saat sholat sebaiknya ditujukan ke tempat sujud dan tidak melihat suatu hal yang berada di depannya, seperti dinding, tulisan, dan sebagainya. Hal tersebut akan mengusik kekhusyukannya dalam sholat. Tutup mata saat sedang sholat beberapa ulama menghukuminya terhitung yang makruh jika tidak ada kepentingannya.

Ibnul Qayyim memiliki pendapat, bila ada kepentingan, misalkan di depannya ada hiasan yang mengusik kekhusyukan, tutup mata bukanlah hal yang makruh.

Ke-3 , makruh hukumnya lakukan sholat saat sajian makanan sudah siap. Dimakruhkan bila akan kerjakan sholat, tetapi ingin buang hajat. Lebih bagus diselesaikan melahap makanan yang sudah disajikan lebih dulu dan menjalankan hajat baru menjalankan sholat.

Dari Aisyah RA, ia berbicara, “Saya dengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidak bisa sholat saat makanan sudah disajikan dan jangan juga saat ia sedang meredam dua kotoran (kencing dan buang air besar).'” (HR Muslim).

Bila ada suatu hal yang mengusik kekhusyukan sholat, lebih bagus hal tersebut di hilangkan lebih dulu. Bila perut berasa lapar dan makanan telah disajikan, disarankan untuk melahap makanan lebih dulu. jual jam masjid digital hanya di jamdigital.co.id

Hukum makruh dapat menyusut bila waktu sholat makin sempit. Siapakah yang cemas ketinggal sholat dan waktunya habis, sebaiknya ia kerjakan sholat dulu baru makan dan menjalankan hajat. Ke-4, makruh hukumnya bila saat sholat orang itu berangkat pinggang. Karena berangkat pinggang ialah ciri-ciri beberapa orang yang tinggi hati. Umat Islam dilarang mengikuti karakter-sifat orang yang tinggi hati. Dari Abu Hurairah RA, ia berbicara, “Dilarang berangkat pinggang dalam sholat.” (Muttafaq Alaih)

Saleh al-Fauzan dalam Mulakhkhasul Fiqhi menambah, makruh hukumnya bila orang yang sholat lakukan beberapa gerakan yang tidak dibutuhkan. Makruh hukumnya tempelkan ke-2 lengan dari pergelangan tangan sampai siku ke lantai saat sujud. Rasulullah SAW bersabda, “Sujudlah dengan prima, jangan sampai kalian tempelkan ke-2 lengan ke lantai seperti anjing.” (Muttafaq Alaih).

Makruh membunyikan jari-jari tangan, menempatkan suatu hal yang khusus di bawah kening saat sujud, menyeka kening dan hidung buat bersihkan kotoran.

Comments are closed.